Aku Lagi Ujian

April 6, 2009

Di TK-ku SLB YPAC Solo minggu ini, baru diselengarakan ujian mid semester berarti sebentar lagi aku jadi anak SD…., doain ya biar nilaiku baik2 semua… matur nuwun

Rumah Eyang Jadi Dijual….(sayang sekali)

Maret 18, 2009

Di Jual Cepat

Rumah Kebun

Di Tengah Kebun Cengkih

Luas Rumah 300 m2 split level, IMB

Kebun 8229m2 SHM, Akte Jual Beli 5.800m2

Total 14.029 m2. Bisa expansi hingga -/+ 5 HA.

Pemandangan Sawah,Udara sejuk, nyaman dan tenang/aman

Fasilitas Telepon 021-

Listrik PLN 3500 watt

Sumur deepwell – jernih

Saluran irigasi ke semua lokasi

Tanaman Cengkih -/+ 170 pohon, 50% berbuah

Anekah pohon buah : Rambutan, durian dll.

Anggrek Golden Shower -/+ 8000 pot

Lokasi Desa Rawa Gede.

Rw 05, Rt 03, kelurahan Singa Jaya, kecamatan

Jonggol. 13 km dari Taman Buah Mekar Sari

Pengembangan Sedang dibangun jalan alternatif menuju Cipanas Di dalam kawasan peruntukkan hunian

Harga Rp 1,6M (nego)

Hubungi Nelly Suparno

Telp 021-89932456

Hp 0818724073

YPAC Solo Dan Es Teler 77

Maret 17, 2009

Minggu 15 Maret 2009, aku dan temen2 YPAC diundang pembukaan dan lomba mengambar Es Teler 77 di Solo Square, acaranya sangat meriah karna temen2 YPAC mengisi acara dengan lantunan musiknya. Acara ini juga banyak dihadiri oleh banyak anak2 TK dan SD di Solo, semoga dengan motivasi dari Es Teler 77 dapat membangkitkan kepedulian dan merubah pandangan anak2 normal dan ortu mereka yang datang terhadap kami yang difable….

Mobil Baruku

Februari 28, 2009

Kemaren barusan aku dapat mobil-mobilan baru yang bisa ku naiki warnannya merah, banyak mainannya distirnya, dan bisa jalan pake batere cash….., hadiah itu sebenernya adalah hadiah naik kelasku ke TK-B, tapi oleh Eyang Danar Hadi, Eyang Bambang dan Bude Tonik, baru diberikan kemaren ….., karna kesibukan belio bertiga…

Trima kasih Eyang Danar Hadi….

Nb: Oh ya kalo temen-temen main ke Solo main ya ke Show Room-nya Batik Danar Hadi kita bisa belajar banyak tentang kebudayaan Jawa khususnya BATIK karna disana temen-temen boleh masuk ke Museum Batik Danar Hadi…., dan pastinya sangat menyenangkan…!

Berbagi Kasih Dalam Suka Valentine’s Day

Februari 23, 2009

Kemaren Minggu 22/2/2009 komunitasku di YPAC menyelengarakan acara valentine’s day, yang disponsori oleh Bapak Lilik seorang pembimbing kelompok pemuda Solo, dan kak Melissa Christina dari NISP…, kami seluruh anak difable baik dari SLB, Asrama dan Keluarga besar YPAC Solo terhibur dengan acara tersebut, Tamu yang hadir benar-benar mau bergabung dalam suka dan kasih valentine’s. Bukan binkisan coklat dan mainan yang dibawa tamu yang kami harapkan tetapi rasa solidaritas dan pandangan mereka terhadap kami yang kami harapkan….

Rumah Eyang Nelly Masuk Sindo – DI JUAL

Februari 12, 2009

Rumah Kebun Multifungsi
Wednesday, 11 February 2009

Rumah Kebun Multifungsi ato Villa ini akhirnya mo dijual Eyang Kalo ada Om-om ato Tante yang minat silahkan kontak Eyang Nelly di O21-89932456 ato 081 872 40 73 kira-kira sih Eyang mintanya 2M…., semoga cocok

FASAD, Bentuk bangunan rumah pasangan Soeparno dan Nelly terinspirasi dari suasana di Kota St Tropez, Prancis. Tak heran, mereka memilih cat eksterior dan interior yang cerah, bak musim panas di wilayah pantai tersebut.

MENGISIrumah dan halaman dengan tumbuhan memiliki faedah yang amat besar.Di samping mencegah meluasnya pemanasan global,rumah kebun nan hijau juga bisa memberi keuntungan finansial kepada penghuninya.

Pembaca SINDO, pasangan Soeparno dan Nelly, memiliki sebuah rumah kebun yang tertata apik di kawasan Jonggol, Bogor, sejak 1993. Pada masa itu,Jonggol belum terlalu berkembang, ”panoramanya” seperti hutan dengan kondisi jalan yang tidak terawat.

”Saya dibilang gila sama temanteman karena mau tinggal di sini,”ujar Nelly. Namun, ”kegilaan”itu bukan tanpa alasan. Pasangan mantan penerbang dan pramugari ini ingin mengolah tanah seluas lebih dari 14.000 meter persegi milik mereka untuk dijadikan tempat tinggal serta kebun anggrek. Maklum, pada masa itu, profesi baru Nelly sebagai pengusaha anggrek sedang maju-majunya.

”Tanah di sini sangat menghasilkan kalau mau diolah. Pada masa itu, saya membutuhkan lahan cukup luas untuk budi daya anggrek,” kata Soeparno. Konsep rumah kebun lantas digagas pasangan yang sudah menikah selama 48 tahun ini. Luas rumahnya sendiri 300 meter persegi.Karena bentuk tanahnya terasering, total ada empat level, Soeparno menilai kediamannya jadi terkesan lebih dinamis.

Menurut arsitek lanskap Nirwono Yoga, rumah kebun harus memenuhi unsur seperti: dilihat dari berapa besar lahan yang dibangun (koefisien dasar bangunan/ KDB) dan dihijaukan (koefisien dasar hijau/ KDH). Perbandingan KDB (50-70%) dan KDH (30-50%) yang seimbang diharapkan mampu mewujudkan rumah kebun serta rumah taman yang ideal juga sehat.

Nirwono menjelaskan, rumah adalah tempat beristirahat, bersosialisasi, berkeluarga, dan beribadah. Kebun atau taman merupakan cermin energi alam sebagai sumber kehidupan. Maka,jika rumah dan kebun atau taman dirancang sebagai satu kesatuan yang harmonis, hal itu bakal memberikan energi kehidupan kepada penghuninya.

Sementara soal bentuk bangunan rumah Soeparno dan Nelly, pasangan ini mengaku terinspirasi dari suasana di Kota St Tropez, Prancis. ”Rumah di sana sangat bagus.Kebetulan anak saya ada yang tinggal di sana. Pemandangannya pantai, rumah- rumah desa tapi bentuknya bagus,” sebut Soeparno,yang pensiunan perusahaan penerbangan Garuda Airlines.

Tak heran mereka memilih cat eksterior dan interior yang cerah, bak musim panas di St Tropez.Kuning,hijau,dan gradasi warna senada makin membuat rumah ini terkesan hangat. Tatanan ruang dalam pun begitu dinamis. Jika kita masuk dari depan, di sana terdapat lorong yang menghubungkan ruang tengah atau ruang makan.

Di sisi kanannya ada dapur.Area ini sangat nyaman dengan pemakaian furnitur lawas tapi tetap terawat. Di dalamnya terdapat satu set kursi makan dengan furnishing cat putih, lighting alami, serta plafon tinggi yang menghadirkan area void dari lantai atas.

Desain rumah kebun sangat adaptif dengan masa sekarang,sejalan dengan meluasnya pemanasan global. Rumah kebun atau rumah taman menerapkan desain hemat energi.Penempatan jendela,pintu, dan skylight bertujuan memasukkan cahaya serta udara secara tepat juga optimal pada seluruh ruangan.

Dengan begitu, pemakaian lampu dan alat pengatur udara, terutama pada pagi dan siang hari, dapat ditekan seminimal mungkin. Ruang tamu Soeparno dan Nelly berada di lantai bawah.Konsepnya masih terinspirasi dari kenyamanan rumah musim panas di St Tropez.Jajaran sofa dan kursi anyaman mengisi area publik ini.

Di sekelilingnya terdapat jendela yang memungkinkan kita bisa menyaksikan panorama persawahan di luar rumah.Kesannya begitu tenang dan homy. Sejatinya rumah memang harus membuat pemiliknya merasa nyaman. ”Rumah tidak hanya nyaman bagi keluarga saya,juga bagi tetamu yang datang,”sebut Nelly.

Beralih ke taman, masa kejayaan anggrek mungkin sudah berlalu. Nelly sendiri mengaku,telah menonaktifkan usaha toko bunganya setelah lokasi di Barito dipindahkan ke kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan. Otomatis, tanaman anggrek di rumah ini sekarang sudah banyak berkurang. Sebagai gantinya, Soeparno mulai membudidayakan cengkeh.

”Cengkeh sama manjanya dengan anggrek. Harus benar- benar telaten merawatnya, ”cetus ayah tiga anak ini. Hidup di desa pada usia senja memberi ketenangan luar biasa bagi pasangan ini.

”Hidup kami bisa terpenuhi dengan standar yang kami sesuaikan. Buah dan sayur tidak pernah beli,sudah hasil kebun,”kata Nelly,sembari tersenyum. Mantan pramugari ini sedang menata hidup dan huniannya lagi.Terpikir olehnya untuk memiliki rumah yang lebih kecil agar mudah diurus.Yang pasti,di mana pun Nelly tinggal, asalkan bersama suami tercinta, semua akan terasa indah. (johana purba)

Diambil dari http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/212628/

Penggunaan Istilah ‘Difable’ atau ‘Difabel’

Februari 10, 2009

Oleh Cak Fu
Membaca tulisan Rendy tentang disahkannya perda pernyandang cacat mengingatkan kembali saya tentang istilah difable. Seperti banyak orang, saya pertama kali menemukan istilah ini ketika menggunakan busway dan mengira itu adalah kesalahan ejaan (saalh keitk™). Tapi ternyata makin lama makin banyak yang menggunakan istilah difable secara konsisten, termasuk di antaranya media-media massa. Jelas ini bukanlah semata-mata kesalahan pengetikan.

Menurut Cak Fu, istilah ‘difable’ ini pertama kali dipopulerkan oleh beberapa aktivis gerakan penyandang cacat pada tahun 1998. ‘Difable’ sendiri adalah singkatan dari frasa dalam Bahasa Inggris “Different Ability People”.

Sekitar tahun 1998, beberapa aktivis gerakan penyandang cacat memperkenalkan istilah baru untuk mengganti sebutan penyandang cacat. Istilah baru tersebut adalah Difable yang merupakan singkatan dari kata bahasa Inggris Different Ability People (sic, mungkin maksudnya ‘differently abled people’ -penulis’) yang artinya Orang yang Berbeda Kemampuan . Istilah Diffable didasarkan pada realita bahwa setiap manusia diciptakan berbeda. Sehingga yang ada sebenarnya hanyalah sebuah perbedaan bukan kecacatan. Kami para penyandang cacat pada dasarnya dan dalam kenyataannya dapat melakukan apa saja sebagaimana orang lain melakukan namun hanya caranya saja yang berbeda.

Dalam ilmu bahasa, ini disebut sebagai eufemisme, yaitu penggunaan kata yang memperhalus kata yang digunakan sebelumnya.

Yang menjadi masalah adalah istilah ‘difable’ tidak mengikuti kaidah ejaan Bahasa Indonesia dengan benar. Jika memang ‘difable’ adalah singkatan yang berasal dari frasa dalam Bahasa Inggris, maka setelah melalui proses penyerapan seharusnya paling tidak akan menjadi ‘difabel’. Sisi positifnya, penggunaan kata ‘difabel’ ternyata memang sudah lebih banyak daripada kata ‘difable’. Pencarian di Google mencatat ada 600 penggunaan kata ‘difabel’ dan 388 kata ‘difable’.

Masalah lainnya yang lebih serius adalah bahwa banyak orang Indonesia yang tidak menyadari bahwa ‘difable’ bukanlah sebuah kata dalam Bahasa Inggris. Istilah ‘difable’ ini dibuat oleh orang Indonesia, digunakan hanya oleh orang Indonesia, tidak ada dalam kamus Bahasa Inggris apapun dan tidak pernah digunakan oleh orang berbahasa Inggris. Ini cukup serius karena saya lihat cukup banyak literatur berbahasa Inggris buatan orang Indonesia yang menggunakan istilah ‘difable’ ini.
Tapi apa istilah yang tepat? Seperti halnya dalam Bahasa Indonesia, istilah ini dalam Bahasa Inggris juga mengalami proses eufemisme. Istilah yang pertama kali digunakan adalah lame, kemudian diperhalus berturut-turut menjadi crippled, handicapped, disabled, dan terakhir differently-abled.

Jadi, ingat-ingat: dalam Bahasa Indonesia adalah ‘difabel’, dan terjemahannya dalam Bahasa Inggris adalah ‘differently-abled’, bukan ‘difable’.
Pandang Difabel secara Wajar
Ini adalah petikan wawancara saudari Woro Harkandi Kencana (Mahasiswi S1 Ekstensi Jurusan Komunikasi Massa FISIP Universitas Indonesia) dengan Cak Fu dalam rangka menyelesaikan Tugas Skripsi KOMODIFIKASI PENYANDANG CACAT (DIFABLE PERSON) PADA TAYANGAN YANG MENGANGKAT PENDERITAAN MANUSIA. Selama ini media telah mengekplorasi difabel dengan kepentingan kapitalisme. Salah satu contoh adalah tayangan sinetron yang mengangkat peran difabel dengan tujuan menguras air mata dan mengharu – birukan penonton.

Bagaiamana anda mengistilahkan keadaan yang anda alami?
Sebenarnya saya juga tidak punya istilah khusus tentang keadaan saya. Memang orang lain menyebut saya sebagai penyandang cacat atau difabel. Tapi jujur saya tidak punya istilah apapun untuk keadaan saya, karena saya lebih sering merasa tidak terbelenggu atau terganggu dengan keadaan saya.

Apakah itu berati istilah yang anda gunakan adalah bagian dari jati diri anda ?
Memang saya merasa bahwa fisik saya berbeda dengan orang pada umumnya, tapi saya tidak punya istilah khusus untuk keadaan saya ini. Iya, keadaan saya yang berbeda ini adalah bagian dari jati diri saya. Dan saya bangga dengan keadaan saya ini.

Bagaiamana anda menjalani kehidupan anda?
Saya menjalani kehidupan saya dengan wajar. Sejak masa kecil saya sudah terbiasa bermain dengan teman sejawat. Bagi saya biasa main sepak bola di masa kecil, main gobag sodor, kasti, dan permaian anak-anak lainnya. Dan Alhamdulillah saat itu teman sejawat menerima saya dengan wajar.

Saya selama ini menjalani kehidupan sebagaimana orang lain atau anda jalani. Saya kadang juga sedih menangis, bahagia,atau kadang tertawa terbahak-bahak ketika ada sesuatu yang lucu. Saya lebih melihat dan menyikapi kehidupan ini sebagai amanah dan sekaligus anugrah dari Allah. Amanah berarti saya harus menjalankan peran hidup ini termasuk memiliki keadaan fisik yang berbeda ini dengan sebaik-baiknya, dan Anugrah berarti senantiasa mensyukuri hidup dan kehidupan dengan cara mengoptimalkan waktu, ketrampilan, dan pengetahuan untuk perbaikan tata kehidupan baik untuk diri sendiri, keluarga, dan orang lain.

Bagaimana anda menanggapi segala bentuk perlakuan yang diberikan orang disekitar anda ?
Saya menyikapinya dengan tenang dan wajar. Saya sadar bahwa masyarakat masih belum paham soal difabel. Sebagian mereka ada yang memperlakukan saya dengan penuh kasihan secara berlebihan dan ada juga yang diskriminatif. Tapi semua saya sikpi dengan penuh kesadaran.

Menurut pandangan anda bagaimana penilaian masyarakat terhadap keberadaan difable person saat ini?
Menurut saya ada 4 penilaian umum di masyarakat terhadap difabel:
Masyarakat yang menilai difabel sebagai korban kontruksi social. Kebanyakan dari mereka adalah para cendikia yang kritis dan pro egaliter.

Masyarakat yang menilai bahwa difabel adalah kutukan Tuhan sebagai akibat perbuatan dosa seseorang. Kebanyakan dari kelompok ini adalah para agamawan ortodok dan konservatif.

Masyarakat yang mengasihani difabel. Sehingga sikap dan prilakunya lebih berbentuk charity yang didasaarkan pada rasa belas kasihan.

Masyarakat yang melihat difabel sebagai orang sakit. Ini adalah mereka yang dipengaruhi oleh cara pandang medik. Sehingga mereka selalu berusaha untuk menghilangkan kondisi difabel dengan cara usaha penyembuhan secara medik.

Menurut anda bagaimana media merepresentasikan keberadaan masyarakat difable person khususnya dalam tayangan televisi?

Saya melihat media masih mewakili cara pandang umum masyarakat kita terhadap keberadaan komunitas difabel. Ada beberapa sinetron yang menayangkan adegan difabel hanya untuk menguras air mata dan membuat haru biru para penonton. Belum ada yang menampilkan difabel sebagai sosok yang wajar. Itu saja…

Maaf, adakah dalam tayangan mengenai difable person di media ada hal yang membuat anda tidak dapat menerima realitas yang dihadirkan?

Ya itu tadi, media lebih mengeksplore difabel hanya untuk menguras air mata atau mengharu birukan penonton. Kalaupun ada yang lain, melihat keberhasilan seorang difabel sebagai sesuatu yang luar biasa dan heroic. Padahal difabel itu ya orang biasa, yang bisa salah dan berbuat jahat.

Menurut anda seharusnya bagaimana difable person ditampilkan dalam media?

Ya ditampilkan sewajarnya sajalah. Kalaupun ada hal baik yang dapat menginspirasi seseorang ya ditampilkan secara proprsional.
DIFABEL
Sekarang ini telah banyak orang menggunakan kata difabel sebagai kata gabti untuk sebutan penyandang cacat. Bahkan Harian Kompas telah menggunakan kata difabel sebagai kata resmi dalam setiap tulisannya. Namun tak banyak orang tahu kapan dan bagaimana kata difabel itu muncul. Kata difabel ternyata pertama kali muncul bukan dari sebuah seminar atau symposium nasional, namun hasil dari obrolan santai dua orang aktivis gerakan social Mansour Fakih (INSIST Jogja) dan Setya Adi Purwanta (Dria Manunggal-Jogja). Saat itu keduanya sedang asyik berbincang lewat telepon. Seperti kutipan pembicaraan di bawah ini.

Pada suatu pagi di awal tahun 1996 saya ditelpon oleh Mansour untuk diajak berbicara tentang persiapan penyelenggaraan rally dialog. Kira-kira jam 10 pagi kami berbincang-bincang masalah penyelenggaraan rally dialog itu di kantor OXFAM. Di tengah-tengah pembicaraan itu Mansour nyeletuk: ‘’Hey, Pak Setia beberapa kali kita telah membicarakan dan sepakat bahwa cacat itu sebenarnya tidak ada. Jadi bagaimana kalau kita berusaha agar cacat itu tidak ada lagi. Sebagai langkah awal proses dekonstruksi sosial, kita harus membuat sebutan pengganti istilah penyandang cacat. Tapi kemudian akan menggunakan istilah apa ya?’’ ‘’Yah, memang benar bahwa pada hakekatnya cacat itu tidak ada. Seperti yang telah kita bicarakan di Wisma Galuh, bahwa sebenarnya yang ada di antara kita adalah perbedaan kemampuan. Jadi bukan ketidakmampuan’’, jawabku. Mansour berpikir sejenak dan kemudian, ‘’Tunggu dulu, bagaimana kalau kita menggunakan istilah ‘diffable’? Kata itu merupakan akronim dari istilah differently able people, seperti yang telah Anda katakan orang yang berbeda kemampuan tadi’’, kata Mansour. ‘’Okay aku sangat setuju. Istilah itu sangat menempel pada istilah disable, tetapi sekaligus menabraknya. Dengan demikian istilah diffable tidak sulit untuk diucapkan orang terutama dari kalangan menengah. Tetapi lalu Bahasa Indonesianya apa ya? Hal ini penting agar orang kebanyakan lebih mudah menggunakannya’’, tanyaku kepada Mansour. ‘’Ya, di samping mudah menyebutkannya juga yang tak kalah pentingnya adalah maksud penggunaan istilah itu’’ kata Mansour. ‘’Okelah, sambil berjalan nanti kita cari Bahasa Indonesianya’’, lanjutnya lagi. Sorenya aku tilpon Sukanti (seorang temanku yang bekerja sebagai penerjemah Bahasa Inggris), dan aku menceriterakan apa yang telah kubicarakan dengan Mansour mengenai penggunaan istilah diffable. Kemudian aku tanyakan istilah yang tepat dalam Bahasa Indonesianya. Dengan enak dan gayanya yang khas ia menjawab, ‘’Ya, pakai saja istilah difabel, dengan ejaan D I F A B E L’’ Aku menyetujui dan aku pun segera menelpon Mansour untuk mengkomunikasikan hal ini, dan Mansour pun menyetujui juga. Sejak itulah kami bertiga sepakat untuk menggunakan dan mensosialisasikan penggunaan istilah difabel atau diffable tersebut. (Kutipan diambil dari makalah yang ditulis oleh Setia Adi Purwanta pada Seminar Sehari Memperingati 100 Hari Wafatnya Mansour Fakih , Yogyakarta 25 Mei 2004)

Memang kemudian kata difabel disebarluaskan dan diakui oleh para aktivis gerakan difabel pada tahun 1998. Saat itu para aktivis gerakan difabel melakukan Sarasehan Nasional untuk menggagas Format Baru Gerakan Difabel di Hotel Sargede Jogjakarta tahun 1998.

Memang kata difabel hingga sekarang masih menjadi kontroversial dikalangan teman-teman aktivis gerakan difabel. Sebagian masih senang menggunakan istilah cacat daripada difabel. Saya sadari bahwa sebenarnya belum ada kata yang tepat untuk mewakili kondisi yang berbeda yang dialami oleh teman-teman. Namun untuk sementara inilah hasil maksimal dari sebuah usaha kawan-kawan aktivis gerakan difabel untuk melakukan dekonstruksi sosial terhadap pandangan masyarakat terhadap difabel selama ini. Terimakasih kami sampaikan kepada Almarhum Mansour Fakih dan bapak Setia sebagai ”guru” yang telah mengajarkan kepada saya tentang gerakan difabel.

Aku Dukung Kak Oik Idola Cilik Dari Salatiga

Februari 9, 2009

Aku tertarik sekali dengan TV baru satu tahun yang lalu saat ada acara Idola Cilik di RCTI sebelumnya sih aku cuek gak pernah liat TV apalagi merhatiin acara tertentu…
Waktu Idola Cilik pertama aku mendukung Kak Ivi cucunya Ibu Farida Pasha …, sekarang aku ngedukung Kak Oik dari Salatiga kebetulan mirip saja dengan namaku… dan aku ingin sekali bisa menyaksikan secara langsung acara itu utk mendukung Kak Oik.
Maju terus Kak Oik doaku menyertaimu ……Kak Oik pasti bisa jadi juara satu……, Amin

Oh ya thanks banget RCTI karna Mu aku jadi banyak kenal temen-temen yg berprestasi dari Sabang sampe Merauke…. (SALAM KENAL YA TEMEN-TEMEN DARI INDONESIA TIMUR……

Merokok Didekat Anak Kecil Adalah Kejahatan

Februari 5, 2009

*) Judul dan Tulisan ini diambil dari beberapa artikel diinternet tentang bahaya rokok secara tidak langsung terhadap anak kecil

**** Rokok dan Diabetes ****
Penulis : Ikarowina Tarigan
Merokok berbahaya bagi setiap orang, khususnya bagi penderita diabetes, yang pada dasarnya sudah berisiko mengalami komplikasi seperti penyakit kardiovaskular.

Jika Anda pengidap diabetes juga seorang perokok, tidak masalah sudah berapa lama, Anda bisa memperbaiki kesehatan dengan berhenti merokok. Menurut Asosiasi Diabetes Amerika (the American Diabetes Association), berikut merupakan bahaya potensial bagi penderita diabetes yang merokok:
Merokok mengurangi kadar oksigen pada jaringan yang bisa menyebabkan serangan jantung atau stroke
Merokok meningkatkan kadar kolesterol dan tekanan darah yang meningkatkan risiko serangan jantung
Merokok mempersempit dan merusak pembuluh darah sehingga memperparah bisul kaki
Merokok meningkatkan risiko kerusakan saraf dan ginjal
Merokok meningkatkan risiko terserang flu serta penyakit pernapasan lainnya
Merokok meningkatkan kadar gula darah
Merokok meningkatkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular hingga 3 kali lipat dibandingkan dengan penderita diabetes yang tidak merokok.
(*/health.yahoo.com)

***** Rokok Percepat Proses Penuaan *****
Penulis : Ikarowina Tarigan
Merokok membawa efek yang sama dengan sindrom werner, penyakit genetik yang mempercepat proses penuaan. Merokok mempercepat proses penuaan, menyebabkan para perokok meninggal 10 tahun lebih awal sebelum waktunya.

Tetapi, sekarang para peneliti telah menemukan kunci untuk melahirkan cara penanganan baru melalui proses ini. Kunci ditemukan melalui pengamatan bahwa perokok bukan hanya orang-orang yang mengalami penuaan dini. Tetapi, pada usia 20-an, orang-orang yang mengalami kelainan yang dikenal dengan sindrom werner sudah mulai beruban, kulit menipis serta suara semakin parau.

Mereka juga cepat menderita katarak, diabetes, pengerasan arteri, serta pengeroposan tulang. Mereka cenderung meninggal karena penyakit jantung dan kanker pada usia 40-an atau 50-an.

Para perokok juga mengalami penuaan dini dan cenderung meninggal karena penyakit jantung dan kanker. Mungkinkah ada hubungannya?

Menurut Toru Nyunoya, MD, peneliti dari Uiversitas Iowa beserta teman-temannya, semua ini saling berkaitan.

Sindrom werner disebabkan oleh mutasi gen WRN. Gen ini berfungsi memproduksi protein WRN yang melindungi dan memperbaiki DNA di setiap sel dalam tubuh. Nyunoya dan teman-temannya mengumpulkan sel-sel paru-paru dari perokok dengan emphysema.

Mereka menemukan, sel-sel terlalu sedikit mengandung protein WRN. Gen WRN perokok normal, tetapi ada sesuatu yang menghambat mereka memproduksi WRN yang cukup.

Ketika para peneliti memeriksa sel-sel paru-paru di laboratorium, mereka menemukan, ekstrak asap rokok menurunkan produksi WRN dan mempercepat penuaan sel. Sel-sel yang secara genetik berfungsi untuk memproduksi WRN secara berlebihan, tidak terlalu dipengaruhi oleh ekstrak asap rokok.

“Studi kami bisa mendukung usaha untuk mengatasi protein sindrom werner untuk digunakan dalam pengembangan pengobatan baru terkait dengan kondisi akibat rokok seperti emphysema,” terang Nyunoya dalam news release-nya.
(*/webMD.com)

****** BAHAYA TAMBAHAN PEROKOK PASIF ******
Penelitian baru membuktikan ada bahaya lain bagi para perokok pasif. Yakni kalau luka pun lambat sembuhnya. Para peneliti yakin, hal ini disebabkan sel-sel tubuh yang terpapar asap rokok sulit bergerak ke wilayah yang mengalami luka.

Hasil penelitian menyebutkan akibat asap rokok tersebut sel fibroblas, yang membantu memperbaiki jaringan tubuh yang rusak jadi merekat dan kurang aktif gerakannya. Sel-sel jaringan ikat itu melekat karena asap rokok mengubah susunan kimianya. Penelitian ini dilakukan Tim dari Universitas California.

Mengomentari hasil penelitian tadi, para peneliti di Inggris mengatakan efek merokok terhadap lambannya penyembuhan luka sudah lama diketahui, hanya saja sejauh ini sangat sulit melihat pengaruhnya pada perokok pasif.

Dalam jurnal BMC Cell Biology, para peneliti dari the University of California berkeyakinan pengaruh asap rokok terhadap perokok pasif sama dengan perokok aktif. Pada perokok pasif, selain luka lambat sembuh, juga meninggalkan bekas luka yang abnormal. Ini disebabkan sel-sel ikat hanya terkonsentrasi di tepian luka, sehingga luka-luka tidak menutup kembali dengan sempurna.

Percobaan yang dilakukan terhadap tikus menunjukkan tikus-tikus yang terpapar asap rokok selama 6 bulan, luka-lukanya lebih lambat sembuh. Pada tikus yang terbebas dari asap rokok, luka-lukanya 95 persen menutup kembali dengan sempurna, setelah tujuh hari. Sementara yang menghirup asap rokok lukanya hanya menutup 85 persen.

Semua kenyataan tersebut menyadarkan kita betapa paparan asap rokok pengaruhnya begitu merusak, terutama bagi perokok pasif. Hasil penelitian ini disikapi dengan hati-hati. Dr Stuart Enoch yang bekerja di the University of Wales College of Medicine mengatakan hasil penelitian terhadap perokok pasif ini sangat menarik, tetapi harus disikapi secara hati-hati. Dikatakannya, paparan semua zat-zat berbahaya, tidak hanya asap rokok, berpengaruh buruk pada sel-sel fibroblas. “Paparan zat-zat berbahaya pada manusia itu banyak sekali variabelnya,” ujarnya.

Selain itu, ia juga khawatir pengaruh asap rokok pada sel-sel tikus berbeda dengan manusia. “Sel-sel fibroblas ini sangat sensitif terhadap pengaruh dari luar. Ibaratnya jika anda ‘meniupkan’ apa saja didekatnya, mereka akan berhenti tumbuh.” Namun, ia bisa menerima hasil penelitian bahwa luka-luka jadi lambat sembuh karena kurang aktifnya sel-sel fibroblas, “Itu sangat masuk akal,” ujar Dr Enoch. Apakah semata-mata akibat pengaruh asap rokok? Itu yang harus diteliti lebih mendalam lagi.

****** Orangtua Perokok Bentuk Anak Perokok *******
Penulis : Ikarowina Tarigan

Sebuah penelitian menemukan, remaja dengan orangtua perokok cenderung mengikut kebiasaan orangtuanya menjadi perokok.

Menurut Dr. Stephen E. Gilman dari the Harvard School of Public Health di Boston, dampak ini semakin kuat jika anak terekspose tembakau yang digunakan orangtua, sebelum mereka berusia remaja. Tetapi mereka juga menemukan, bagi anak mantan perokok, risiko ini juga akan hilang jika orangtuanya berhenti merokok.

Akan tetapi, lanjut Gilman, belum diketahui apakah kedua orangtua mempunyai pengaruh yang sama kuat atau yang satu lebih kuat dari yang lain dan apakah pengaruh orangtua terhadap perilaku merokok anaknya akan sama sepanjang masa anak-anak dan remajanya.

Para peneliti menginvestigasi 559 anak laki-laki dan perempuan yang berusia 12-17 tahun. Para peneliti juga berkonsultasi dengan orangtua dari masing-masing partisipan remaja.

Diantara orangtua ini, 62.4% diantaranya pernah merokok sedangkan 46% memenuhi kriteria ketergantungan nikotin sepanjang hidup mereka.

Sebanyak 27.8% remaja melaporkan pernah merokok dengan prevalensi merokok meningkatkan seiring usia; 7.2% dari remaja yang berusia 12 tahun mengaku telah merokok, sedangkan 61.3% dari yang berusia 17 tahun telah merokok.

Menurut para peneliti, masing-masing orangtua secara independen mempengaruhi kemungkinan anak remajanya akan merokok.

Seorang ibu yang perokok akan mempengaruhi anak lelakinya atau anak perempuannya secara seimbang, tetapi kebiasaan ayah merokok mempunyai pengaruh yang lebih kuat terhadap anak laki-laki daripada perempuan.

Kebiasaan merokok ayah yang tidak tinggal dengan keluarganya tidak akan mempengaruhi risiko merokok anaknya.

Semakin lama ayah merokok semakin besar kemungkinan anak mulai merokok. Di sisi lain, apakah orangtua ketergantungan nikotin atau tidak, tidak akan berpengaruh pada kekuatan hubungan.

“Yang mengganggu kita adalah dampak yang paling kuat pada usia muda,” kata Gilman. Anak-anak yang berusia 12 tahun atau lebih muda, dengan orangtua yang aktif merokok berisiko 3.6 kali lebih besar menjadi perokok dibandingkan dengan anak-anak dari orangtua yang tidak perokok.

Tetapi remaja berusia 13 tahun atau lebih tua dengan orangtua perokok hanya berisiko 1.7 kali lebih besar menjadi perokok.

Menurut para peneliti, banyak faktor yang mempengaruhi seseorang menjadi perokok. Mulai dari pengaruh media hingga faktor keturunan. Akan tetapi, dia dan teman-temannya menulis,”pemahaman mendalam mengenai transmisi kebiasaan merokok antar generasi dalam keluarga akan menambah pengertian mengenai cara pencegahan.”

Menurut mereka, usaha berhenti merokok bagi keluarga dan orangtua tidak hanya akan mengurangi kebiasaan merokok orangtua tetapi juga menurunkan kemungkinan merokok generasi berikutnya.
(*/health.yahoo.com)

Liburanku…

Januari 28, 2009

Aku punya tempat favorit buat tamasya tepatnya 30 menit kearah kota Karanganyar, Papa sering ajakku kesana kalo pas hari Sabtu karna kalo hari Minggu lokasi tersebut sangat ramai….
Namanya Sondokoro yaitu tempat wisata agri (tanaman) bisnis yang dikelola dan berlokasi didalam pabrik gula Tasik Madu. Tasik Madu dibangun pada jaman kolonial Belanda bekerjasama dengan Kraton Mangkunegaran untuk memproduksi gula, didalam lokasi wisata itu kita bisa bermain flying fox, ayunan, ada kebun binatangnya, ada kolam renang dan beberapa kereta api tebu jaman dahulu yang telah dimodifikasi menjadi kerta wisata.
Aku paling senang mainan air dikolam renangnya kata Papaku sih biar bisa cepet jalan karna kalo diair semua otot2ku bisa aku gerakan dengan bebas….
Temen-temen kalo pas ke Solo usahain mampir kesana ya….disamping murah masuknya hanya Rp. 3.000,- pokoknya disana heboh banget….